Translate

Kisah Omayra Sánchez



Pada 13 November 1985, Gunung Nevado del Ruiz meletus, memuntahkan lahar dan abu panas ke atmosfer. Menurut catatan sejarah, Letusan Nevado del Ruiz tahun 1985 adalah bencana alam terburuk yang terjadi di Kolombia serta bencana vulkanik paling mematikan kedua di dunia pada abad ke-20.
Letusan itu membuat 13 desa di sekitarnya luluh lantak diterjang keganasan lahar.

Dari semua desa yang terdampak erupsi, yang paling parah adalah kota Armero di mana letusan itu menewaskan lebih dari 23.000 orang dari populasi 31.000 jiwa.
Musibah fatal terjadi pada pukul 9 malam waktu setempat ketika gunung berapi mulai menunjukkan kenaikan aktifitasnya dan mulai mengeluarkan campuran abu panas dan lava yang agresif. Tapi bukan lava yang merenggut begitu banyak nyawa, melainkan lahar.

Ketika gunung berapi Nevado del Ruiz meletuskan lava, gunung itu melepaskan gletser dan salju yang meleleh. Air kemudian mengalir ke bawah gunung berapi membawa batu dan tanah ke tepi sungai. Air dan lumpur vulkanik itu adalah yang kita kenal sebagai lahar.
Lahar menerjang ke desa-desa dengan kecepatan yang sangat tinggi, diperkirakan mencapai 13 mil per jam, melibas pohon dan mobil yang dilaluinya selama perjalanannya menuju pemukiman warga. Salah satu arus laharnya mencapai kota Armero di Tolima, yang menghapusnya dari peta dan juga membunuh 70% penduduknya. Peristiwa dahsyat itu ditandai sebagai Tragedi Armero.

Peristiwa bersejarah di Armero itu melibatkan seorang gadis Kolombia berusia 13 tahun, bernama Omayra Sánchez Garzón, yang menjadi salah satu korbannya dengan kisah pilunya. Omayra lahir pada 28 Agustus 1972, dari orang tua Alvaro Enrique, seorang pemetik beras, dan Maria Aleida.

Pada malam ketika lahar menghantam Armero, Omayra tengah berada di rumahnya bersama ayah, saudara laki-laki, dan bibinya, sementara ibunya di Bogotá melakukan bisnis.
Ketika malam telah menyelimuti Kota Armero, mendadak mereka terbangun ketika secara tiba-tiba lumpur vulkanik menghantam rumah mereka dan Omayra terperangkap di bawah reruntuhan rumahnya.

Beberapa jam kemudian, tim penyelamat dan sukarelawan telah berada di tempat kejadian untuk mengevakuasi korban. Mereka melihat melalui reruntuhan ketika Omayra berhasil mengulur-ulurkan tangannya di atas air, menandakan bahwa dia ada di sana dan masih hidup.
Tim penyelamat lantas bergegas membantunya.

Akan tetapi, tim penyelamat menyadari situasi yang tidak menguntungkan yang dialami oleh gadis malang itu. Omayra terjebak dan tidak bisa menggerakkan dari pinggang ke bawah. Tim penyelamat tidak mungkin bisa membebaskan tubuhnya tanpa mematahkan kakinya. Dikarenakan kaki Omayra tertimpa puing-puing dinding dan beton didalam lumpur tersebut.

Para relawan mencoba mengangkat tubuh bagian atas Omayra sebisa mungkin. Kemudian, mereka menempatkan kayu di sekelilingnya untuk dipegangi oleh gadis itu dan memberikan ban untuk membantu tubuhnya agar dia tetap mengapung.

Ketika para penyelamat tiba di lokasi Omayra, mereka menemui apa yang ditakuti semua orang. Kaki Omayra tertekuk dan terperangkap di bawah dinding bata, sementara bibinya, yang telah tenggelam dan meninggal masih menempel di antara kedua kakinya.
Gadis itu begitu ketakutan dan tak hentinya mengeluarkan air mata.

Selama seluruh proses evakuasi dilakukan, Omayra sempat bernyanyi untuk jurnalis Jerman, Santa Maria Barragan, sembari menjawab pertanyaan saat diwawancarai, makan permen, dan minum soda.
Kelelahan yang dahsyat telah melemahkan kesadaran dirinya.

Pada hari ketiganya terjebak dalam air, gadis itu mulai berhalusinasi dan berkata kepada wartawan: "Saya tidak ingin terlambat ke sekolah."
Dia juga menyebutkan ujian matematika. Selain itu, terendam dalam air yang lama dan tekanan puing-puing menyebabkan mata merah Omayra semakin lama semakin tampak menghitam.

Sebelum meninggal, para sukarelawan, terutama petugas pemadam kebakaran, mencoba mengangkat gadis itu. Pada saat mereka mencoba mengangkat tubuh bibinya dengan tali yang tergantung di helikopter, mereka hanya bisa membebaskan beberapa inci tubuh Omayra. ia benar-benar tak bisa diselamatkan.

Fotografer Frank Fournier, yang mengambil foto terkenal Omayra, tiba di lokasi hanya beberapa jam sebelum gadis itu meninggal. Fotonya diberi nama World Press Photo of the Year. Sebuah publisitas yang menggambarkan kegagalan Pemerintah Kolombia.

Omayra Sánchez Garzón dinyatakan meninggal pada 17 November 1985, pada pukul 09.45 waktu Kolombia dengan kondisi yang masih terhimpit di antara reruntuhan bangunan dan tangan bibinya.

REKAMAN VIDEO
WARNING! (GRAPHIC CONTENT)
Alternatif link video : https://pomf2.lain.la/f/t8jxt6i1.mp4

Berita dan video tanpa link + "No Sensor" tersedia di channel telegram kami: https://t.me/sakaratul_maut

Belum ada Komentar untuk "Kisah Omayra Sánchez"

Posting Komentar